Regalia News
Home » Suami Dipenjara, Istri Minta itu Keadilan Terkait Dugaan Kasus Pencabulan Anaknya di Jemaja

Suami Dipenjara, Istri Minta itu Keadilan Terkait Dugaan Kasus Pencabulan Anaknya di Jemaja

TS, ibu kandung Bunga (9) korban dugaan kasus pencabulan di Jemaja, Anambas saat mendatangi Kantor KPPAD Provinsi Kepri di Jalan Riau, Tanjungpinang, Selasa (14/7)

Regalia News – TS (34), ibu kandung Bunga (9) sebagai korban dugaan kasus pencabulan anak dibawah umur di Desa Landak Kelurahan Letung,Kecamatan Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas sekitar bulan Juni 2020 lalu.akhirnya mendatangi Mapolda Kepri di Batam untuk mencari keadilan,terkait proses hukum yang tengah dilakukan di Polsek Jemaja saat ini.

Upaya tersebut terpaksa dilakukannya, setelah pihaknya menemukan sejumlah bukti baru berdasarkan keterangan dari anak kandungnya sendiri,terhadap siapa pelaku yang sebenarnya melakukan pencabulan dan bukanlah ayah kandungnya berinisial AM (37) sebagai tersangka dan dilakukan penahanan oleh pihak Polsek Jemaja sejak 12 Juni lalu, termasuk sejumlah kejanggalan lainnya yang tengah dihadapi suami saat ini.

Dari beberapa rekaman suara yang diterima awak media,korban mengakui kepada orang tuanya termasuk beberapa saudaranya yang lain,bahwa pencabulan dilakukan seorang pria berinisial Os yang juga tetangganya,bahkan dalam isi percakapan itu juga jelas Bunga mengatakan,bahwa Os sudah sering hingga belasan kali melakukan perbuatan bejat terhadap dirinya,disalah satu tempat yang disebut korban milik Pak Kades disana.

Hal paling mirisnya lagi,korban juga menyebutkan bahwa Os melakukan perbuatan terakhir kalinya pada 12 Juni 2020 di kamar dalam rumahnya sendiri,disaat ibunya pergi guna perluan di luar di rumah,sedangkan ayah kandungnya AM yang dalam kondisi sakit, tengah tertidur di ruangan tengah.

Dalam rekaman tersebut juga terdengar jelas korban menyebutkan ketika OS masuk dalam kamarnya secara tiba-tiba dan diam-diam langsung membekap mulut juga tubuhnya dalam selimut sambil membuka celanya hingga memuaskan nafsu birahinya,termasuk melontarkan kata-kata ancaman kepadanya agar menuduh sekaligus memfitnah, bahwa ayahnya yang melakukan pencabulan tersebut.

Korban juga mengakui pencabulan diduga dilakukan Os sudah belasan kali,yang terakhir terjadi di rumah korban pada 12 Juni 2020,saat korban sedang tidur tidur siang dalam kamar.

“Justru bukti rekaman keterangan pengakuan anak saya itu tidak ditindaklanjuti oleh kepolisian setempat, melainkan sebaliknya tetap menahan suami saya hingga saat ini,”kata ibu korban kepada sejumlah awak media di Tanjungpinang, Selasa (14/7).

Dia menambahkan,suaminya menderita penyakit Prostat,lumpuh tidak bisa berjalan sebagaimana layaknya, bahkan buang air kecil saja terpaksa menggunakan pempers,termasuk sudah lama tidak melakukan hubungan badan layanya suami istri.

Namun upaya mencari keadilan untuk suaminya dan juga anaknya tersebut di kantor kepolisian setempat ia nilai menemui jalan bantu,dan polisi tetap menahan suaminya itu hingga saat ini,sementara pelaku yang sebenarnya sesuai keterangan anaknya tersebut,yakni Os belum diproses dan masih tetap berkeliaran di luar.

Melihat kondisi tersebut membuat TS,ibu kandung korban terus berjuang hingga akhinya ke Mapolda Kepri, Senin (13/7) kemarin,setelah melakukan konsultasi didampingi pihak keluarganya di Tanjungpinang untuk melakukan pendampingan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) (P2TP2A) Dinas Pemerdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Kepulauan Riau,termasuk dukungan dan pemantauan dari Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah Provinsi Kepri.

Sebelumnya, TS juga mengaku sudah dua kali gagal berangkat ke Tanjungpinang untukmelakukan konsultasi dengan psikolog terhadap anaknya, sesuai anjuran pihak keluarga,namun upaya keberangkatannya saat itu baik melalui pesawat maupun menggunakan kapal fery gagal,akibat adanya tindakan paksa dari pihak Polsek Jemaja saat itu.

Staf Pendamping UPTD P3AP2KB Provinsi Kepri. Lalu Ahmad Rodian SH membenarkan atas upaya pendampingan yang dilakukan pihaknya terhadap ibu korban guna mencari keadilan,sekaligus melaporkan dugaan kasus pencabulan terhadap anaknya tersebut ke Mapolda Kepri.

“Korban juga sudah kita lakukan esesmen dengan pihak psikolog untuk melihat kondisi anak saat itu,termasuk mencari fakta kebenaran yang sebenarnya terjadi,juga untuk mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya,” ujar Lalu Ahmad Rodian.

Sementara Ketua KPPAD Provinsi Kepri,Eri Syahrial mengakui pihaknya sudah mendapatkan laporan atas dugaan kasus pencabulan anak di bawah umur di Jemaja tersebut melalui upaya monitoring, pengawasan, konsultasi bagaimana proses hukum yang berjalan semestinya serta mengedapankan kepentingan anak.

“Jadi dalam kasus ini kita juga sudah minta keterangan dari pihak orang tua korban (TS) yang menilai sampai saat ini tidak adanya keadilan,termasuk proses hukum yang dinggap perlu ditinjau kembali dalam penetapan status tersangka yang dianggap selama ini oleh pihak kepolisian adalah ayah korban,”kata Eri.

Dari kasus tersebut,lanjut Eri,pihaknya juga sudah bekerjasama dengan UPTD P3AP2KB Provinsi Kepri yang telah melakukan asesmen psikologis terhadap korban secara berulang kali.

“Bahkan ada dua psikolog yang melakukan upaya esesmen terhadap korban,sehingga hasilnya nanti bisa menjadi acuan ‘Secon Opinion’,terhadap keterangan psikolog untuk dimuatkan dalam bentuk laporan,apasih yang sebenar-benarnya terjadi? dan ini memang lumrah terjadi,karena korban anak itu susah untuk mengungkap,karena dihantui rasa takut, trauma, melihat baju Polisi saja takut,hal itu perlu ketenangan,dan kehadiran lembaga-lembaga lain yang berkopeten untuk pengungkapan kasus,”ujar Eri.

Terhadap kasus ini, lanjut Eri,pihaknya menduga berdasarkan hasil yang didapat, adanya dugaan pelaku lain, sekaligus meragukan hasil penyidikan yang dilakukan pihak Kepolisian di Jemaja,sehingga perlu tindak lanjut melalui gelar perkara dengan menghadirkan pihak terkait.

“Dalam gelar perkara tersebut, ada penyidik, psikolog, KPPAD, UPTD P3AP2KB. Aturannya memang seperti itu terkait perkara menyangkut anak,dan tidak cukup hanya pihak kepolisian yang mengambil kesimpulan,sehingga nanti,apa yang disimpulkan itu,tidak salah,tidak merugikan pihak lain,dan menghukum betul-betul pelaku sebenarnya yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja hijau sidang di Pengadilan Negeri,”tegas Eri.

Eri juga menyebutkan, bahwa dari hasil psikolog tersebut, pihaknya juga akan menyampaikan kepada pihak kepolisian, sehingga dalam waktu dekat didapati pelaku yang betul-betul melakukan perbuatannya terungkap,

“Bahwa proses yang dilakukan ini,jika ada salah memang harus dievaluasi,kami sifatnya hanya memberikan masukan sesuai bahan-bahan dan informasi yang sudah kita dapati,karena kami bergerak sebagai pelindung anak,tentu beranjak dari keterangan anak melalui psikolog,hasil psikolog itulah yang akan kami perjuangkan menjadi pertimbangan bagi penyidik untuk menetapkan tersangka,”jelas Eri.

Disinggung apakah saat dilakukan proses penyidikan oleh pihak kepolisian di Jemaja,ada dilakukan pendampingan oleh pihak KPPAD Anambas? Eri menyebutkan ada dilakukan pendampingan,namun ia mengakui Sumber Daya Manusia,terutama menyangkut tidak adanya psikolog dan KPPAD Anambas yang masih baru terbentuk beberapa bulan lalu.

“Koordinasi pihak KPPAD Anambas dengan kami (KPPAD Kepri) ada. namun kami tidak mengetahui secara ditail seperti apa kasus yang sebenarnya,hari ini baru kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi setelah bertemu dengan orang tua korban,namun sebelum bertemu ini,kita juga sudah melakukan koordinasi, termasuk dengan pihak psikolog untuk dikaukan asesmen psikologis,”kata Eri.

Menurut Eri, adanya sejumlah data baru yang diperoleh tersebut, diharapkan dapat merubah proses penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap pelaku yang sebenarnya.

Ditanya terkait adanya dugaan intervensi dari pihak kepolisian setempat dalam menangani perkara ini, Eri mengakui belum bisa mengetahui secara jelas,namun pihaknya hanya fokus untuk menyelamatkan korban yang dipercai kepada psikolog.

“Cukup kita peracayakan kepada psikolog yang memang sudah diakui, karena kalau anak ini terus ditanya-tanya,tentu tidak baik juga dan traumanya bisa muncul lagi,”jelas Eri.

Sementara TS, ibu korban sangat berharap dalam proses penanganan yang dilakukan pihak Polda Kepri nantinya bisa menemukan titik terang benderang dan keadilan yang sebenarnya, termasuk laporan berikutnya dapat diproses oleh pihak Polda Kepri.

“Saya sangat percaya dengan proses penyidikan di Polda Kepri,karena kalu masih ditangani Polsek Jemaja, rasa trauma saya timbul lagi,”harap TS dengan wajah sendu.

Penulis : Tim

Editor   : Redaksi

Related posts

Wanita Lansia Terserat Pejambret

Redaksi

Unit Lakalantas Polres Tanjungpinang Berhasil Tangkap Pengemudi Mobil Penabrak Maut di Batu 8

Redaksi

Tim Gabungan F1QR Ringkus Penyeludup 34,8 Kg Sabu dan 40 Ribu Butir Ekstasi

Redaksi

Leave a review

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

G-FG4C2SQVS1