8 Agustus 2020
Regalia News
Oleh : Sahat Simanjuntak Putra Tapanuli kelahirsn pulsu Senayang, Kepri.
Opini

Cobalah Kita Sejenak Tafakur, dan Merenung Kemudian Intropeksi diri

Regalia News – Apabila dulu para syuhada pejuang pendiri bangsa dan kemerdekaan negeri kita tercinta ini hanya berpangku tangan saja maka negeri kita ini belum tentu merdeka dan berkedaulatan serta membangun.

Kemerdekaan negeri kita tercinta ini terwujut bukan dalam hitungan detik dan bukan juga diberi dengan harga percuma.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 adalah hasil perjuangan syuhada pejuang kita sejak berabad-abad lamanya telah berkorban jiwa, raga, darah, air mata dan harta benda yang tak ternilai.

Aku, dia dan kita majemuk serta kultural dan tersebar mulai dari Sabang hingga Mauroke dan dari Mianggas hingga Rote dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945, menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika dan persemaian dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,

Bertanah Air Satu.
Tanah Air Indonesia.

Berbangsa Satu.
Bangsa Indonesia.

Berbahasa Satu.
Bahasa Indonesia.

Negara kita telah 75 tahun Merdeka, dan Membangun. Dan dunia juga telah mulai menggeliat dan mengambil perannya berinteraksi dengan era milenial.

Disaat-saat itu pula Pandemik Covid-19 melanda dunia dan serangan wabah Pandemik COVID-19 tersebut juga turut melanda masuk ke neheri kita. Wanah Pandemic-19 tersebut telah merepotkan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kita dimana pula disaat-saat ini pula negeri kita sedang disibukkan dengan karut marut poliygelitik yang penuh keriuhan melanda negeri

Karut marut polygeliitik yang terjadi di negeri kita ini dilantunkan tampa memiliki ilmu, seni dan ibadah sehingga karut marut polygelitik yang terjadi di negeri kita yang terkenal dengan kesantunannya ini menjadi tidak bermutu, tidak indah dan tidak terarah untuk pendidikan bangsa dan negara kita yang memiliki cita2 luhur Proklamasi 17 Agystus 1945.

Yang paling parah sekali disaat-saat karut marut polygelitik yang terjadi dan Pandemik Covid-19 yang melanda negeri banyak pula orang yang tidak memiliki batasan antara kebutuhan dengan keserakahan dan banyak pula yang tidak memiliki batasan antara kesenangan dengan ketamakan. Gemar melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara rakyat banyak yang meratap karena keterpanggangan kemiskinan, kurang diberi ketrampilan, buruk kesehatannya dan pengangguran.

Bahwa dalam Pembukaan UUD negara kita Republik Indonesia tahun 1945 tersurat dan tersirat :

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945.

PEMBUKAAN
(Preambule)

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihzpuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang brrbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka. bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemrrdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial maka disusunlah Kemerdekaan Kebamgsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bangsa dan negara kita tercinta ini sedang menghadapi wabah Pandemik COVID-19.

Agar Pandemik COVID-19 boleh berlalu meninggalkan kita kemudian kita kembali bangkit dan keluar dari realita yang menghambat “proses terwujudnya” hakikat cita-cita luhur Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945″, mari kita berdamai dengan hati kita sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai juga dengan COVID-19.

BERDAMAI bukan berarti MENYERAH.
BERDAMAI dengan COVID-19 adalah mematuhi PROTOKOL KESEHATAN.

Damai itu sehat.
Damai itu Indah.
Damai itu Bahagia.
Damai itu Sejahtera.

Mari kita bangkit dan keluar dari realita yang menghambat “proses menjadi” new normal: dengan mematuhi Protokol Kesehatan kemudian menerapkan tatanan hidup baru atau “new normal” dengan disemangati oleh semangat juang dari para syuhada pejuang bangsa kita yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara kita tercinta ini sebagaimana yang tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD 1945.

Menerapkan tatanan hidup baru atau “New Normal” yang merupakan ikhtiar dan ikhtisar beradaptasi dengan disiplin terhadap “Protokol Kesehatan” sehingga situasi saat ini yang melanda dan tantangan baru ini mampu kita hadapi diharapkan kedepan dapat memberikan stimulus positif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita khususnya bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk diantaranya untuk menekan angka pengangguran dan kemerosotan moral berbangsa dan bernegara serta agar jangan sampai menyimpang dari cita-cita luhur Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kenormalan baru ini bukanlah pelonggaran, melainkan adaptasi produktivitas baru agar tetap aman dan damai serta adil dan demokratis sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan UUD Republik Indonesia tahun 1945.

Dalam normal baru menghadapi COVID-19 ini dengan menerapkan protokol kesehatan dan tetap dilakukan secara ketat, tertib dan disiplin mulai dari penggunaan masker, mencuci tangan, jaga jarak, dan rapid tes yang berlaku untuk semua masyarakat yang datang maupun keluar wilayah.

Kesuksesan kita memasuki kehidupan “New Normal” tetap tergantung pada kedisiplinan, selain tetap membutuhkan kerjasama yang erat dan baik dari semua pihak, yaitu kerjasama antara masyarakat, bangsa kita serta penyelenggara negara dan pemerintah secara disiplin.

Disiplin yang dimaksud adalah, Taat terhadap peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam segala aspek bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilaksananakan secara sadar, ikhlas lahir dan bathin sehingga timbul rasa malu untuk melanggar dan terkena sanksi serta rasa takut terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Berdamailah dengan hati kita sendiri.
Berdamai dengan orang lain dan
Berdamai juga dengan COVID-19.
BERDAMAI bukan berarti MENYERAH.

NIAT adalah
CINTA.
IKRAR adalah SEMANGAT.
AKAL adalah
TANYA.

Kedarat berbunga kayu.
Kelaut berbunga karang.

Oleh : Sahat Simanjuntak
Putra Tapanuli kelahirsn pulsu Senayang, Kepri.

Leave a review

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

G-FG4C2SQVS1